Dunia whisky terus berevolusi. Jika dahulu apresiasi terhadap sebuah botol sering kali diukur dari usia, kelangkaan, atau reputasi labelnya, kini percakapan berkembang ke arah yang lebih bermakna. Para penikmat whisky modern semakin menghargai asal-usul, teknik produksi, pilihan cask, hingga filosofi yang membentuk karakter di setiap tegukan.
Perspektif tersebut menjadi benang merah dalam peluncuran resmi Glengoyne dan Tamdhu di Indonesia yang diselenggarakan di Cohiba Atmosphere Jakarta. Dihadirkan oleh PT Cikel Abadi, malam eksklusif ini mempertemukan para kolektor, pecinta single malt, entrepreneur, serta figur dari berbagai industri yang memiliki ketertarikan terhadap dunia whisky premium.
Mewakili kedua rumah whisky legendaris asal Skotlandia tersebut, Gordon Dundas mengajak para tamu menyelami filosofi yang membedakan masing-masing distillery. Berdiri sejak 1833, Glengoyne dikenal sebagai Highland single malt yang mempertahankan salah satu proses distilasi paling lambat di Skotlandia. Pendekatan tersebut menghasilkan whisky dengan karakter yang halus, seimbang, dan elegan, sekaligus mencerminkan keyakinan bahwa kualitas terbaik lahir dari kesabaran.
Di sisi lain, Tamdhu, yang didirikan pada 1897 di kawasan Speyside, membangun identitasnya melalui komitmen terhadap 100% sherry cask maturation. Seluruh proses pematangannya dilakukan dalam sherry oak casks yang dipilih secara cermat, menciptakan profil rasa yang kaya, kompleks, dan berlapis. Tradisi inilah yang menjadikan Tamdhu sebagai salah satu representasi paling autentik dari karakter Speyside.
Perbedaan karakter kedua distillery menjadi daya tarik utama sepanjang malam. Glengoyne menawarkan kelembutan dan keseimbangan yang anggun, sementara Tamdhu menghadirkan kedalaman rasa dengan nuansa buah kering, rempah, dan sentuhan oak yang kaya. Bersama-sama, keduanya menunjukkan bahwa dunia single malt tidak memiliki satu definisi sempurna, melainkan terdiri atas beragam ekspresi craftsmanship yang lahir dari sejarah, terroir, dan filosofi yang berbeda.
Melalui pengalaman food pairing yang dikurasi secara khusus di Cohiba Atmosphere Jakarta, para tamu diajak memahami bagaimana pemilihan bahan baku, karakter kayu cask, hingga waktu pematangan memainkan peran penting dalam membentuk identitas sebuah whisky. Setiap sajian menjadi pengingat bahwa kualitas tidak pernah hadir secara instan, melainkan merupakan hasil dari ketelitian dan dedikasi yang diwariskan lintas generasi.
Bagi Edhi Sumadi dan PT Cikel Abadi, kehadiran Glengoyne dan Tamdhu menjadi bagian dari berkembangnya budaya whisky premium di Indonesia. Seiring bertumbuhnya komunitas penikmat single malt, apresiasi kini tidak lagi berhenti pada nama besar sebuah label, tetapi juga pada pemahaman mengenai proses, tradisi, dan nilai craftsmanship yang ada di balik setiap botol.
Lebih dari sekadar memperkenalkan dua single malt Scotch whisky kepada pasar Indonesia, peluncuran ini menjadi simbol perubahan cara menikmati whisky di era modern. Sebuah perjalanan yang mengajak para penikmat untuk melihat lebih jauh dari isi gelas, menemukan kisah, warisan, dan dedikasi yang membentuk setiap tetesnya.
Di situlah letak kemewahan sejati: bukan hanya pada apa yang dinikmati, tetapi pada cerita yang terus hidup di balik setiap ekspresi whisky.




















