Sebuah perjalanan lintas generasi yang melihat alam sebagai refleksi waktu dan kesadaran manusia.
Ada sesuatu yang berubah dari cara kita melihat alam hari ini. Dulu, kita datang untuk menikmati., sekarang kita sering hanya sekadar melihat lalu lewat.
Living Eden tidak mencoba menarik perhatian dengan cara itu. Ia justru terasa lebih tenang, Lebih diam. Seperti mengajak kita untuk berhenti sebentar, dan benar-benar melihat.

Dipersembahkan oleh Neo Gallery dan dikurasi oleh Anna Sungkar, pameran ini menghadirkan karya-karya yang tidak hanya berbicara tentang lanskap, tetapi tentang bagaimana alam selalu punya makna yang berbeda di setiap waktunya.
Berlangsung di Neo Gallery, Masterpiece Building, Jakarta, dari 4 hingga 25 April 2026, Living Eden mempertemukan para seniman dari generasi yang berbeda. Dan justru di situ letak kekuatannya, bukan pada perbedaan, tetapi pada bagaimana semuanya terasa saling terhubung.
Karya-karya dari para maestro seperti Affandi, Basoeki Abdullah, Dullah, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, Lee Man Fong, S. Sudjojono, dan Widayat membawa kita kembali ke masa ketika alam dilihat dengan rasa hormat yang begitu utuh. Ada ketenangan di sana. Ada keyakinan bahwa alam adalah sesuatu yang bisa dipercaya, sesuatu yang stabil.

Namun hari ini, rasanya tidak sesederhana itu. Melalui para seniman kontemporer, Living Eden membuka cara pandang yang lain. Alam tidak lagi berdiri jauh di depan kita. Ia ada di sekitar kita, dan juga dipengaruhi oleh kita. Ada realitas yang masuk ke dalamnya. Ada perubahan yang tidak bisa dihindari.

Kurasi Anna Sungkar terasa halus, tidak memaksa. Ia tidak mencoba membuat pameran ini menjadi hitam dan putih. Romantisisme dan realisme hadir berdampingan, tanpa harus saling meniadakan.

Keindahan tetap ada.
Tapi ia tidak lagi kosong.
Di titik ini, melihat karya-karya dalam Living Eden terasa seperti melihat sesuatu yang lebih dari sekadar visual. Ada ruang untuk berpikir, tapi juga untuk merasa.

Tidak semua harus dijelaskan. Tidak semua harus dimengerti saat itu juga.
Mungkin itu yang membuat pameran ini terasa berbeda.

Seperti yang disampaikan oleh Stefanus Randy Oenardi Raharjo, pemilik Neo Gallery, Living Eden adalah sebuah undangan, untuk melihat kembali, bukan hanya karya seni, tetapi juga cara kita selama ini memandang alam.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, yang berubah bukan hanya alamnya, Tapi juga kita.
Informasi Pameran
Living Eden
4 – 25 April 2026
Neo Gallery, Masterpiece Building
Jakarta














