Bali selalu memiliki caranya sendiri dalam memahami perayaan, Bukan sekadar pesta atau gemerlap. Tetapi tentang suasana. Tentang bagaimana orang-orang duduk lebih lama di meja makan, membiarkan percakapan mengalir perlahan, musik terdengar samar dari kejauhan, lalu malam bergerak tanpa terasa. Di Bali, celebration terasa lebih personal, Lebih emosional, Lebih hidup, Dan mungkin karena itu pula, wine akhirnya menemukan tempatnya di pulau ini. Bukan sebagai simbol western lifestyle semata, melainkan sebagai bagian dari ritme baru gaya hidup modern Bali, santai namun sophisticated, hangat tetapi tetap refined.
Di tengah perubahan itu, muncul bukan hanya sebagai produsen wine lokal, tetapi sebagai salah satu brand yang perlahan mengubah cara orang memandang wine Indonesia.
Apa yang dilakukan Sababay sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar membuat sparkling wine yang baik. Mereka sedang membangun legitimasi. Membentuk identitas baru. Membuktikan bahwa Indonesia tidak selalu harus menjadi penonton dalam industri wine dunia. Dan semuanya dimulai dari keberanian membaca sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap mustahil: menanam dan memproduksi wine berkualitas di iklim tropis seperti Bali.
Di balik perjalanan itu ada dua sosok perempuan, Mulyati Gozali dan Evy Gozali. Hubungan ibu dan anak ini menjadi fondasi dari visi Sababay hari ini, kombinasi antara intuisi, keberanian bisnis, dan sensitivitas dalam melihat potensi lokal yang sering kali diabaikan. Mereka tidak mencoba menciptakan “French wine in Bali”. Mereka justru memilih membangun karakter yang sangat Bali.

Keputusan itu penting, Karena banyak brand Asia sering terjebak dalam kebutuhan untuk terlihat “asing” demi dianggap premium. Sababay mengambil arah berbeda. Mereka memilih membangun rasa percaya diri dari asal-usulnya sendiri, dari tanah vulkanik Bali, para petani anggur lokal, hingga karakter tropis yang justru menjadi identitas utama mereka. Pendekatan itu kemudian dipertemukan dengan disiplin klasik dari Guillaume Queron, winemaker asal Bordeaux yang membawa pengalaman panjang dari salah satu kultur wine paling dihormati di dunia.

Namun yang menarik, Guillaume tidak datang untuk “mengoreksi” Bali agar terasa seperti Eropa. Ia datang untuk memahami Bali sebagai terroir yang berbeda. Cara berpikir ini terasa sangat penting dalam dunia luxury hari ini, ketika authenticity menjadi jauh lebih bernilai dibanding sekadar imitasi kesempurnaan lama, Hasilnya terasa jelas dalam koleksi sparkling wine mereka.
Ascaro memiliki karakter yang bersih, segar, dengan fine bubbles yang terasa polished namun tidak berlebihan. Ada tropical fruit notes yang membuatnya terasa approachable, tetapi tetap memiliki struktur yang rapi. Sementara Fiorosa membawa nuansa yang lebih sensual, delicate blush tone, aroma floral yang lembut, dan karakter yang terasa sangat cocok dengan atmosfer Bali yang hangat dan romantis. Menariknya, kedua wine ini tidak terasa seperti brand yang terlalu keras mencoba terlihat “luxury”. Dan justru di situlah kekuatannya.
Ada confidence yang tenang, Sababay tidak berbicara dengan bahasa kemewahan yang lama, yang penuh formalitas, jarak, dan eksklusivitas berlebihan. Mereka berbicara dengan bahasa modern luxury: craftsmanship, origin, story, dan emotional connection.
Mungkin itu pula alasan mengapa brand ini terasa relevan dengan generasi baru luxury consumers hari ini. Orang-orang tidak lagi hanya membeli label. Mereka ingin tahu siapa yang membuat produk tersebut, bagaimana prosesnya, siapa petaninya, apa dampaknya terhadap komunitas lokal, dan apakah brand tersebut memiliki soul atau tidak.
Sababay memahami perubahan itu dengan sangat baik, Mereka bekerja langsung dengan petani anggur Bali melalui sistem fair partnership yang memberi stabilitas ekonomi lebih baik bagi komunitas lokal. Sesuatu yang jarang dibicarakan dalam dunia wine, tetapi justru menjadi bagian penting dari value modern luxury hari ini, bahwa kemewahan bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang bagaimana sesuatu dibuat.
Pengakuan internasional seperti penghargaan dari Decanter World Wine Awards tentu menjadi validasi penting. Namun lebih dari sekadar medali, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa kualitas tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh geografi lama.

Dunia luxury sedang berubah, Dan Sababay adalah bagian dari perubahan itu. Sebuah brand dari Bali yang tidak mencoba menjadi Tuscany, tidak mencoba menjadi Champagne, dan tidak berusaha menjadi Napa Valley. Mereka memilih menjadi Bali dengan segala kehangatan, spontanitas, karakter tropis, dan keberanian kreatif yang dimilikinya. Dan mungkin justru karena itulah Sababay terasa begitu menarik.
Karena di tengah dunia luxury yang sering terasa terlalu scripted, Sababay hadir dengan sesuatu yang lebih sulit diciptakan: identitas yang genuine.













