JF3 kembali menghadirkan ruang diskusi industri melalui JF3 Talk 2026 yang berlangsung pada 19 Mei 2026 di Summarecon Discovery, La Piazza. Mengusung tema “Recrafted: Shaping The Future, Karya yang Kuat Tetap Butuh Cerita dan Komunikasi yang Tepat”, forum ini mempertemukan pelaku fashion, media, akademisi, hingga creative industry leaders untuk membahas tantangan baru industri fashion Indonesia. Diskusi menghadirkan Thresia Mareta, Daniel Ngantung, dan Hilmy Faiq, dengan moderator Dino Augusto.
JF3 Talk tahun ini menegaskan satu hal penting: di tengah industri yang semakin kompetitif dan dipenuhi narasi serupa, karya yang baik tetap membutuhkan komunikasi yang tepat agar dapat dipahami, dipercaya, dan berkembang secara berkelanjutan.
JF3 Ingin Menjadi Ekosistem, Bukan Sekadar Fashion Show

Dalam sesi pembuka, Thresia Mareta menjelaskan bahwa tema “Recrafted: Shaping The Future” lahir dari keyakinan bahwa konsep tanpa eksekusi nyata tidak lagi cukup. Menurutnya, JF3 tidak ingin hanya menjadi platform show, tetapi ruang yang memungkinkan seluruh elemen industri saling berbagi ilmu, membangun koneksi, dan tumbuh bersama. “Kalau mau bisnis benar-benar berkembang, harus terkoneksi dengan standar internasional,” ujar Thresia. Ia juga menyoroti masih lemahnya koneksi antar elemen ekosistem fashion, mulai dari pelaku industri, media, hingga pasar. Di tengah membludaknya media online, pelaku fashion dinilai perlu memahami bagaimana membangun komunikasi yang relevan, bukan sekadar hadir dengan produk yang bagus.
Produk Bagus Saja Tidak Cukup, Narasi Menjadi Faktor Penting

Dalam sesi diskusi, Hilmy Faiq menekankan bahwa konsumen saat ini tidak hanya membeli produk berdasarkan desain atau harga, tetapi juga nilai yang dibawa sebuah brand. Isu seperti sustainability, pemberdayaan masyarakat, kemanusiaan, hingga proses produksi yang etis menjadi bagian penting dari keputusan konsumen modern. “Kenyamanan di hati kini lebih penting dari kenyamanan di tubuh,” ungkap Hilmy. Narasi yang kuat, menurutnya, harus lahir dari praktik nyata, bukan sekadar strategi pemasaran. Brand dengan komunikasi yang tidak selaras dengan praktik produksinya berisiko dianggap melakukan greenwashing dan perlahan ditinggalkan pasar.

Pandangan ini diperkuat Daniel Ngantung yang menilai konsistensi sebagai kunci utama dalam membangun identitas brand. Narasi tidak boleh berhenti di satu koleksi, tetapi harus terus hadir sebagai benang merah yang membentuk DNA brand secara berkelanjutan.
Storytelling dan Identitas Brand Menjadi Pembeda
Salah satu poin yang paling banyak dibahas dalam JF3 Talk 2026 adalah pentingnya storytelling dan diferensiasi di tengah banyaknya brand dengan isu dan narasi yang serupa. Menurut Thresia Mareta, nilai yang benar-benar dipegang sebuah brand akan terlihat dari setiap titik eksekusi, mulai dari pemilihan material, proses produksi, hingga desain akhir. “Kalau identitasnya benar-benar dipegang, produknya sendiri yang akan bercerita,” jelasnya.
Hal serupa juga disampaikan berbagai peserta diskusi, termasuk media dan praktisi fashion yang menyoroti masih banyaknya press release fashion yang terlalu generik, minim angle, dan belum mampu menerjemahkan identitas brand secara jelas.
Media dan Brand Perlu Membangun Hubungan yang Lebih Dalam
Selain membahas storytelling, forum ini juga menyoroti hubungan antara media dan brand fashion yang dinilai perlu dibangun lebih dekat dan lebih strategis. Daniel Ngantung menjelaskan bahwa media tidak hanya mempertimbangkan nama besar sebuah brand, tetapi juga melihat bagaimana brand membangun komunikasi dan relasi secara konsisten. “Brand sebaiknya membangun hubungan dengan media bukan hanya saat ada maunya,” jelas Daniel. Salah satu usulan menarik datang dari Hilmy Faiq yang menyarankan hadirnya “dating room” di JF3, yaitu ruang khusus yang memungkinkan media dan desainer berdiskusi lebih dalam mengenai cerita dan nilai brand secara privat dan terjadwal. Usulan lain juga muncul terkait pentingnya pembekalan komunikasi bagi desainer muda, mulai dari cara membuat press release yang baik, storytelling, hingga strategi menghadapi media.
JF3 2026 Akan Digelar Terpusat di Kelapa Gading
Menutup sesi diskusi, Thresia Mareta mengungkapkan bahwa JF3 akan berlangsung secara terpusat di Kelapa Gading. Rangkaian acara dimulai dengan Gala Dinner Opening pada 22 Juli 2026, dilanjutkan fashion show selama tujuh hari berturut-turut pada 23–29 Juli 2026. JF3 juga akan menyiapkan line-up designer lengkap beserta profil singkat sebelum festival berlangsung agar media dan audiens dapat lebih memahami karakter masing-masing brand. Melalui forum seperti JF3 Talk 2026, JF3 ingin terus menjadi ruang yang mempertemukan ide, kritik, kolaborasi, dan diskusi untuk mendorong pertumbuhan industri fashion Indonesia yang lebih kuat, relevan, dan berkelanjutan.













