Saya datang dengan ingatan tentang sebuah tempat lama. Saya pulang dengan alasan baru untuk kembali.
Terakhir kali saya datang ke Da Maria,saya pikir saya sudah tahu apa yang akan saya temukan. Dinding biru putih, pizza, spritz, musik, dan energi Seminyak yang perlahan berubah ketika malam semakin larut. Semua yang selama ini membuat Da Maria begitu mudah dikenali.
Ternyata malam itu terasa berbeda. Saya datang tanpa ekspektasi berlebihan, lalu pulang sambil berpikir: sejak kapan pengalaman bersantap di Da Maria menjadi seenak ini?
Makanannya terasa jauh lebih matang. Pelayanannya hangat dan penuh perhatian tanpa membuat kami merasa diawasi. Setiap hidangan datang pada waktu yang tepat, percakapan mengalir, dan malam berjalan begitu natural hingga rasanya sayang untuk disudahi.
Da Maria bukan lagi sekadar tempat yang saya ingat dari Bali beberapa tahun lalu. Malam itu, saya seperti mengenalnya kembali.
Tempat Lama, Energi Baru
Sejak 2016, Da Maria telah menjadi bagian dari Seminyak. Ia melewati banyak perubahan, ketika restoran baru datang, tren berganti, dan kawasan ini terus menemukan wajah barunya.
Kini, Da Maria juga ikut bergerak. Bukan dengan menghapus identitas yang telah dicintai banyak orang, tetapi dengan melihatnya kembali dari perspektif yang lebih matang. Akar Italia masih menjadi fondasinya, namun menunya kini menjelajah lebih jauh ke kawasan Mediterania dan mempertemukannya dengan bahan-bahan tropis dari Bali.
Transformasi ini dipimpin oleh Executive Chef Lorenzo De Petris bersama Group Beverage Director Denny Bakiev. Keduanya merupakan bagian dari Mexicola Group, tim hospitality yang juga melahirkan natural wine bar Mosto.
Di balik bar, mereka kini ditemani Luca Marcolin, yang sebelumnya bekerja. di Zuma Dubai, salah satu nama yang pernah masuk dalam World’s 50 Best Bars.
“Kami tidak ingin menjauh dari akar Italia Da Maria,” ujar De Petris. “Namun sebagai tim, kami merasa siap memasuki babak baru. Perubahan ini mencerminkan pertumbuhan kami dan juga Bali yang terus berkembang. Perubahan itu langsung terasa di meja.
Ketika Makanan Menjadi Alasan untuk Kembali
Selama ini, saya lebih sering mengingat Da Maria melalui suasananya. Interior Amalfi, spritz, musik, dan malam-malam yang hidup. Namun pada kunjungan kali ini, makanannya justru menjadi hal yang paling saya ingat.
Hidangan demi hidangan terasa sederhana, tetapi dipikirkan dengan baik. Tidak ada presentasi yang mencoba terlalu keras untuk mencuri perhatian. Semua terasa percaya diri karena dapurnya tahu bahwa rasa sudah cukup berbicara.
Beef tartare dari daging sapi grass-fed hadir bersama anchoïade, cavolo nero, kuning telur, dan pecorino. Sebuah interpretasi baru dari carpaccio yang telah lama menjadi salah satu hidangan khas Da Maria.
Sardine asap dingin disajikan dengan lemon, minyak zaitun, dan yuzu. Segar, sedikit smoky, dan terasa begitu tepat untuk disantap perlahan di tengah udara Bali.
Pizza tentu tetap ada, tetapi pilihannya kini dibuat lebih ringkas. Salah satu yang menarik memadukan green tomato, mozzarella, local ’nduja, dan manchego. Familiar pada gigitan pertama, lalu perlahan menghadirkan sesuatu yang berbeda.
Tonnarelli dengan lemon butter, udang, dan bottarga Jepang terasa lembut, cerah, dan comforting tanpa menjadi terlalu berat. Jenis hidangan yang dapat membuat percakapan di meja berhenti beberapa detik karena semua orang sedang menikmatinya.
Untuk hidangan utama, inspirasinya bergerak lebih jauh menyusuri pesisir Mediterania: lamb skewers dengan rosemary dan lemon, spring chicken dengan rouille sauce, serta market fish yang dimasak di atas lava stone dan disajikan bersama burnt citrus.
Semuanya membuat saya kembali mengingat alasan paling sederhana kita mendatangi sebuah restoran: karena ingin makan enak dan merasa senang saat berada di sana.
Italia yang Bertemu Bali
Beberapa bahan penting seperti prosciutto, Parmigiano Reggiano, dan daging sapi Australia masih didatangkan dari luar. Namun semakin banyak elemen dalam menu Da Maria kini berasal dari Bali.
Sayuran datang dari perbukitan Kintamani, Charcuterie diproduksi dan diawetkan di pulau ini. Tepung lokal digunakan untuk membuat pizza bergaya Neapolitan yang menjadi salah satu identitas restoran.
“Kami sangat sadar bahwa kami berada di wilayah tropis,” kata De Petris. “ Kami ingin lingkungan di sekitar kami ikut tercermin dalam makanan.”
Itulah yang terasa sepanjang makan malam. Da Maria tetap Italia, tetapi bukan Italia yang dipindahkan begitu saja ke Bali. Ada hasil bumi lokal, udara tropis, kehangatan pelayanan, dan ritme santai yang membuat pengalaman ini terasa sangat Bali. Kedua dunia itu bertemu tanpa saling menutupi.
Martini dan Sedikit Drama di Meja
Spritz tetap aman di tempatnya. Da Maria tahu ada beberapa hal yang memang tidak perlu diubah.
Namun kali ini, martini mendapat panggung baru. Melalui martini trolley, minuman diracik langsung di sisi meja. Saya selalu menyukai detail kecil seperti ini, ketika proses membuat cocktail menjadi bagian dari pengalaman dan percakapan.
Para tamu dapat memilih martini klasik yang kering atau versi yang lebih tropis, lalu memberikan sentuhan personal melalui tiga aroma racikan sendiri.
Ada Limoni, dengan kulit lemon dan bunga citrus; Erbe, perpaduan rosemary, thyme, sage, dan sentuhan extra virgin olive oil; serta Mare, aroma laut yang dibangun dari kulit tiram yang didistilasi ulang dan sea grapes.
Hasilnya bukan hanya cocktail yang terasa seimbang. Prosesnya memberi sedikit drama pada meja dan membuat satu minuman memiliki ceritanya sendiri.
Program wine baru dari Group Sommelier Federico Sirito mengikuti pendekatan serupa. Daftarnya tetap mudah dinikmati, berfokus pada produsen Italia, dengan tambahan minimal-intervention wine dan beberapa vintage bagi mereka yang ingin memilih sesuatu yang lebih khusus.
Sebuah Tempat yang Layak Ditemukan Kembali
Da Maria tidak kehilangan sisi yang membuatnya dicintai. Interior geometris karya Lazzarini Pickering tetap membawa kita ke taman Mediterania era 1960-an. Warna biru dan putihnya masih terasa segar di tengah Seminyak. Musik dan late-night energy tetap menjadi bagian dari pengalaman.
Carl Pickering kembali terlibat untuk memberikan beberapa perubahan lembut pada ruang tersebut. Bukan renovasi besar yang menghilangkan karakter, tetapi sentuhan yang membawa Da Maria menuju fase berikutnya.
“Da Maria tetap Italia pada intinya, namun juga terasa seperti Bali dalam bentuk yang abstrak,” ujar Pickering. “Kami menjaga DNA nya sambil membawanya menuju visi yang baru.”Da Maria juga kembali membuka layanan makan siang pada akhir pekan. Pengalamannya akan dimulai lebih awal, dari cahaya siang dan long lunch, berlanjut menuju aperitivo, makan malam, lalu musik yang semakin hidup setelah gelap.
Yang paling saya ingat dari kunjungan ini bukan hanya satu hidangan atau satu cocktail. Saya mengingat perasaan ketika sebuah tempat yang sudah lama dikenal ternyata masih mampu mengejutkan. Ketika pelayanan yang baik membuat kita merasa diperhatikan, makanan membuat percakapan berhenti sesaat, dan suasana membuat kita tidak terburu-buru melihat jam. Saya datang ke Da Maria karena namanya sudah menjadi bagian dari Bali. Saya pulang dengan mengingat rasa makanannya, kehangatan malamnya,dan pengalaman yang ternyata jauh lebih baik dari perkiraan.
Da Maria memberi saya kenangan, baru yang tentunya membuat saya ingin kembali.


















