Kertas mungkin terlihat sederhana, namun di tangan seniman, material sehari-hari ini dapat menjadi medium yang menyimpan memori, identitas, sejarah, sekaligus berbagai kemungkinan baru. Gagasan tersebut menjadi titik berangkat Paper Menagerie #3: On Equal Grounds, sebuah pameran yang mempertemukan 63 seniman, kolektif, dan peneliti Indonesia di ISA Art Gallery at Wisma 46, Jakarta.
Berlangsung pada 19 September hingga 27 November 2026, pameran ini mengambil judul dari The Paper Menagerie karya Ken Liu. Namun, Paper Menagerie #3 tidak sekadar berbicara tentang kertas sebagai material. Pameran ini melihat bagaimana kertas mampu menjadi pembawa narasi dan mempertemukan beragam praktik, generasi, pengalaman, serta bentuk pengetahuan dalam satu ruang.
Berangkat dari prinsip Bhinneka Tunggal Ika, On Equal Grounds tidak berusaha menghadirkan satu definisi tunggal tentang seni Indonesia. Sebaliknya, pameran ini menciptakan sebuah bidang bersama tempat berbagai perspektif dapat hadir berdampingan tanpa ditempatkan dalam hierarki tertentu.
Paper as Memory
Dalam pameran ini, memori hadir bukan hanya sebagai sesuatu yang tersimpan dalam pikiran. Ia dapat melekat pada objek, sensasi, gambar, pengalaman, maupun tempat.
Restu Ratnaningtyas, Anastasia Astika, Suvi Wahyudianto, Arum Dayu, dan Jim Allen Abel mengeksplorasi jejak material dan sensorik sebagai fragmen dari sesuatu yang mungkin telah berlalu. Sementara itu, Meliantha Muliawan, TEMPA, Dewi Fortuna Maharani, Erna Garnasih, Muhammad Revaldi, dan Luh’De Gita memperluas pembacaan memori melalui pengalaman personal, warisan budaya, lanskap, dan waktu.
Kertas kemudian menjadi semacam ruang penyimpanan yang fleksibel, mampu membawa, merekonstruksi, dan menghadirkan kembali lapisan sejarah. Lanskap tidak diposisikan sekadar sebagai latar, melainkan sebagai ruang aktif tempat sejarah, pengalaman hidup, praktik budaya, dan proses ekologis terus terakumulasi.
Between Archive and Resistance
Salah satu kekuatan Paper Menagerie #3 terletak pada kemampuannya melihat kertas sebagai arsip sekaligus medium untuk mempertanyakan apa yang dicatat, apa yang diingat, dan apa yang akhirnya menjadi terlihat.
Agung Eko Sutrisno, Ferial Afiff, Meicy Sitorus, dan Enggar Rhomadioni menggunakan kertas untuk membawa narasi personal, budaya, dan sejarah. Di sisi lain, ruangrupa, Riono Tanggul, Mujahidin Nurrahman, Sillyndris, Res Harris, Amenk, Adi Dhigelz, Amy Zahrawaan, serta Anita Bonit dari Grafis Huru Hara mengeksplorasi bagaimana narasi, realitas sosial, dan sistem kekuasaan dapat dipertanyakan maupun direkonstruksi.
Di sini, kertas memperoleh makna yang lebih luas. Sifatnya yang aksesibel, reproduktif, dan fleksibel membuatnya dapat menjadi medium pertukaran, imajinasi, perlawanan, hingga protes.
Material, Process, and the Unexpected
Pameran ini juga memperlihatkan bagaimana karakter fisik kertas dapat memengaruhi proses penciptaan karya. Eksperimen, intuisi, revisi, akumulasi, serta hasil yang tidak selalu dapat diprediksi menjadi bagian dari perjalanan artistik.
Adriel Arizon, Naela Ali, Addy Debil, Budi Santoso, Galih Adika, Ardi Gunawan, Ida Lawrence, dan Igi Anjangbiani mengeksplorasi kemungkinan tersebut melalui pendekatan yang eksperimental. Sementara Soni Irawan, Rega Ayundya Putri, Dian Mayang Sari, dan Dapott Kesuma menantang nilai yang sering dilekatkan pada material sehari-hari, terbuang, dan terabaikan.
Beragam praktik lainnya turut memperlihatkan bagaimana kertas dapat membawa sejarah dan tradisi sekaligus mengalami transformasi melalui proses artistik dan interaksi. Nama-nama seperti Widi Pangestu, Jumaadi, Labtek Apung, Iwan Effendi, Dika+Lija, Jompet Kuswidananto, Andika Namaste, Rafi Nur Fauzi, dan Rudi Hermawan dari Krack! menjadi bagian dari lanskap tersebut.
On Equal Grounds
Pada akhirnya, Paper Menagerie #3: On Equal Grounds menghadirkan kertas sebagai sebuah bidang pertemuan. Di atasnya, pengalaman, sejarah, identitas, dan cara berkarya yang berbeda dapat hadir tanpa kehilangan karakter masing-masing.
Kertas membawa jejak dari apa yang pernah diingat dan dicatat. Namun sifat materialnya juga memungkinkan jejak tersebut untuk ditransformasikan, ditafsirkan kembali, bahkan dibaca dari perspektif yang berbeda.
Dengan mempertemukan 63 seniman, kolektif, dan peneliti Indonesia, pameran ini menciptakan ruang di mana beragam narasi tidak harus menjadi seragam untuk dapat berdampingan. Justru melalui perbedaan tersebut, hubungan-hubungan baru dapat muncul.













