Kalau kita punya lebih banyak waktu untuk berkarya, apa yang ingin kita wujudkan?
Pertanyaan sederhana ini membuat kami tertarik pada teknologi AI. Kami membayangkan seorang perancang yang akhirnya sempat mencoba gagasan yang lama tertunda, atau sebuah tim kecil yang punya waktu untuk bereksperimen tanpa terus dikejar tenggat. Kemungkinan itu layak dijajaki. Tentu, sambil memahami apa artinya bagi pekerjaan dan orang-orang yang menjalaninya.
Kami ingin mendengar mereka yang antusias mencoba maupun yang masih punya pertanyaan. Kita tidak harus sepakat dalam segala hal untuk bisa belajar bersama. Justru dari perbedaan pandangan, kita bisa lebih jernih melihat manfaat teknologi dan menentukan batas yang diperlukan.
Itulah yang menarik dari With Gemini, In Craft, inisiatif Google yang diperkenalkan di Jakarta pada September 2026. Melalui KRATON oleh Auguste Soesastro, STELLARISSA, dan TWO STITCHES, kita diajak melihat bagaimana AI digunakan untuk kebutuhan kreatif yang berbeda.
Kami mengapresiasi langkah Google membuka percakapan ini. Ketika perancang dan perusahaan teknologi duduk bersama, ada kesempatan untuk memahami cara kerja, harapan, serta kekhawatiran masing-masing. Semoga pertemuan seperti ini terus berlanjut, termasuk untuk membicarakan hal-hal yang jawabannya belum tentu mudah.
Dari sana, kami mulai berpikir: bisakah kita bertemu di tengah?
Auguste, misalnya, menggunakan Gemini Deep Research untuk membantu riset proyek adibusana bagi Kenya Kamalashila Soekarno. Ia menelusuri arsip leluhur di enam wilayah, dari Jawa hingga Latvia. Sebelum hasil riset itu menjadi bagian dari koleksi, Auguste sendiri memeriksa apakah penggunaannya sesuai dengan budaya yang ia pelajari.
Membawa kisah keluarga ke dalam busana membutuhkan kepekaan. Ada cerita yang ingin dibagikan, ada pula yang sebaiknya tetap pribadi. Sebuah simbol mungkin terlihat indah, tetapi belum tentu tepat digunakan. Perancang perlu memahami maknanya dan mengapa simbol itu layak hadir dalam karyanya.
Perhatian seperti inilah yang kami hargai dari sebuah karya mewah. Ada upaya mengenal orang yang akan memakainya, memahami latar belakangnya, lalu menerjemahkan kedekatan itu ke dalam detail busana.
Karena itu, keterlibatan Auguste dalam memeriksa hasil risetnya terasa penting. Kemudahan memperoleh informasi tetap perlu diikuti ketelitian menelusuri sumber dan kesediaan bertanya kepada mereka yang lebih memahami suatu tradisi. Bagi kami, penggunaan AI justru menarik jika memberi waktu untuk memperdalam pekerjaan tersebut.
Stella Rissa memulai eksplorasinya dari Starlet, karakter yang ia lukis sendiri dengan cat air. Dengan bantuan Gemini, ia mengembangkan karakter itu ke dalam bentuk digital, menjajaki animasi, mengenakannya dalam busana couture, hingga membuka kemungkinan cerita multimedia dan figur koleksi. Sebuah gambar yang semula diam kini bisa dikembangkan menjadi karakter dengan gerak dan suara. Namun, Stella tetap menilai setiap hasilnya sampai ia merasa karakter itu sudah sesuai dengan yang dibayangkannya.
Di sini, kepekaan pencipta tetap dibutuhkan. Hasil yang terlihat rapi belum tentu memiliki ekspresi atau kepribadian yang tepat. Orang yang melahirkan gagasan itu perlu terus menentukan apa yang dipertahankan, diperbaiki, atau ditolak.
Kami tidak merasa sebuah karya kehilangan keasliannya hanya karena prosesnya berubah. Yang ingin dilihat adalah apakah penciptanya masih terlibat penuh dalam keputusan dan bisa menjelaskan mengapa ia memilih hasil tersebut.
Pada TWO STITCHES, teknologi digunakan untuk membantu kerja tim sekaligus pengembangan usaha. Label yang didirikan Andy Tan dan Jerome Kurnia ini mengeksplorasi visualisasi busana, mencoba busana secara virtual, serta melakukan riset pasar dan harga untuk koleksi “MRTYNY”. Tim mereka berada di Jakarta, Bali, dan Berlin. Gemini membantu para kolaborator melihat perkembangan desain yang sama meski bekerja dari kota berbeda. Sementara itu, teknik khas moving stitches tetap dikerjakan dengan tangan. Detail ini menarik karena memperlihatkan bagaimana cara berkolaborasi bisa berubah tanpa menghilangkan keterampilan yang menjadi ciri sebuah label.
Sebagai pelaku usaha kreatif, kami memahami daya tariknya. Setiap keputusan produksi membawa biaya dan risiko. Sampel perlu dibuat, waktu tim perlu diperhitungkan, dan koleksi perlu menemukan pembelinya. Kesempatan untuk mempelajari desain serta pasar lebih awal tentu berguna.
Kami ingin mengikuti perkembangannya setelah tahap eksplorasi ini. Apakah kebutuhan sampel berkurang? Apakah risetnya membantu mengambil keputusan produksi? Bagaimana respons pembeli ketika koleksi tersebut hadir? Jawaban atas pertanyaan itu akan membantu kita memahami manfaatnya secara lebih nyata.
Meski demikian, kami berharap perancang tetap memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang berbeda dari saran data. Salah satu kesenangan menikmati mode adalah menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak terpikir untuk kita cari.
Ada pula kontribusi para pembuat film dan fotografer dalam dokumentasi proyek ini. Mereka menentukan bagaimana proses kreatif tersebut direkam dan diceritakan, dengan Gemini turut membantu sebagian pekerjaan pascaproduksi. Kontribusi ini penting untuk diakui. Cara kita mengenal sebuah karya juga dipengaruhi oleh orang-orang yang menyampaikan ceritanya.
Pembicaraan tentang AI memang perlu melibatkan lebih banyak orang. Di balik sebuah label ada ilustrator, model, peneliti, pembuat pola, penata gaya, hingga tim produksi. Mereka juga berhak bertanya tentang tempatnya dalam perubahan ini. Kami memahami jika ada yang khawatir. Keahlian yang dipelajari bertahun-tahun sering kali menjadi sumber penghasilan sekaligus kebanggaan. Tidak mudah mendengar bahwa sebagian pekerjaan itu kini bisa diotomatisasi. Sebagian tugas akan berubah, dan kebutuhan terhadap sejumlah peran mungkin berkurang. Karena itu, ajakan untuk beradaptasi perlu disertai kesempatan belajar yang terjangkau serta peluang kerja yang memberi tempat bagi kemampuan baru. Kita tidak bisa hanya meminta orang untuk siap menghadapi perubahan tanpa membantu mereka menjalaninya.
Di sisi lain, kami tidak melihat menghindari teknologi sebagai jalan keluar yang bisa diandalkan. Sebaliknya kami lebih ingin para pelaku kreatif ikut menentukan bagaimana teknologi dikembangkan dan digunakan. Proses belajarnya perlu berjalan dua arah. Kita belajar menggunakan AI, lalu membawa pengetahuan kita ke dalam prosesnya: memberi rujukan yang benar, menjelaskan konteks, memeriksa hasil, dan menyampaikan kekeliruan kepada pengembangnya. Pengalaman para kreator perlu benar-benar didengar, terutama ketika menyangkut budaya dan pengetahuan yang mereka pahami.
Tentu, ada batas yang harus disepakati. Koleksi yang belum dipublikasikan, karakter orisinal, atau pengetahuan milik suatu komunitas tidak bisa begitu saja dianggap bebas digunakan. Kreator berhak mengetahui bagaimana materi mereka dikelola dan menentukan apa yang bersedia dibagikan.
Jika para pelaku kreatif diminta mempelajari cara kerja baru, perusahaan teknologi juga perlu bersedia belajar dari mereka. Hubungan seperti ini membutuhkan kepercayaan yang dibangun bersama. Pada akhirnya, kembali pada pertanyaan di awal: untuk apa waktu yang berhasil kita hemat?
Harapannya seorang perancang bisa lebih sering berdialog dengan perajin. Sebuah tim kecil bisa mengerjakan gagasan yang selama ini tertunda. Waktu untuk memikirkan cerita dengan lebih matang atau mendengarkan seseorang tanpa terburu-buru sudah merupakan manfaat yang berarti. Begitu juga kesempatan menikmati hidup di luar pekerjaan. Kalau teknologi yang semakin cepat hanya membuat tenggat semakin pendek dan tuntutan produksi semakin tinggi, manfaatnya bagi manusia perlu kita pertanyakan.
Bertemu di tengah berarti terbuka untuk belajar, sambil tetap tahu apa yang ingin kita jaga. Kami bersedia mencoba cara baru juga ingin gagasan orisinal dihormati dan orang-orang di baliknya diperlakukan dengan adil. Kini kita punya lebih banyak waktu untuk karya yang diimpikan. Dan orang-orang yang membantu mewujudkannya ikut mendapat kesempatan untuk tumbuh.
























